Sunday, March 27, 2016

Sisa sejarah yang hilang dan kenangan yang tercecer

Teks & foto: Iwan Hermawan

Dulu di Stasiun Cimahi dekat pintu perlintasan kereta api sebelah timur terdapat pipa unik yang berfungsi untuk pengisian air dari watertoren dibelakang locomotif uap.
Sewaktu masih SMP, saya sering main ke lintasan ini dengan bermodal kamera pinjaman yang masih memakai film rol hitam putih. Saya asyik jeprat-jepret disekitaran tempat ini.
Sekarang pipa unik ini sudah tidak ada.


Tempat pengisian air kereta uap

"Toot...tooot...teet...toot...toot...teeet...."
Jika anda tinggal di kota Cimahi pasti terbiasa oleh bunyi terompet yang berasal dari barak tentara. Bunyi terompet itu biasa melengking sekitar jam 6 pagi dan jam 10 malam.
Jika sedang senyap, bunyi terompetnya terdengar sangat jauh hingga ke utara sampai Alun-alun, hingga ke selatan sampai Cibeber.
 

Bunyi terompet ini sangat khas. Bunyi jam 6 sebagai tanda untuk bersiap apel pagi dan jam 10 untuk waktunya istirahat. Dahulu, jika sudah ditiupkan terompet ini, pasukan KNIL bersiap-siap lari menuju lapangan lengkap dengan klewang dan peralatan tempurnya, meninggalkan istri dan anak-anaknya di tangsi-tangsi. Jika malam tiba, bunyi terompet begitu lemah mendayu. Saatnya para serdadu KNIL untuk istirahat, dan tangsi pun gelap gulita.

Terompet KNIL

Sebuah bangunan yang berada di depan pintu masuk Pusdikarmed ini sekitar tahun 1942-1945 pernah digunakan sebagai kantor komandan Kamp Baros 6 Jongens Kamp yang di pimpin oleh Kapten Kunimoto. Sekitar tahun 1989 bangunan ini diratakan untuk pembangunan jalan tol Baros. Yang tersisa dari komplek kantor ini sekarang masih digunakan oleh TNI.


No comments:

Post a Comment